Indeks
News  

Mimpi Besar dari Kampung Kecil: Perjalanan Anak Guru SD Meraih Gelar Doktor

“Untuk pendidikan, selagi mau dan mampu, pasti ada jalan.”

Kalimat sederhana itu bukan sekadar nasihat. Ia menjadi kompas hidup bagi Dr. Dony Darma Sagita, M.Pd., Kons., sejak masih menjadi anak kecil di Jorong Gunung Bungsu, Nagari Batipuah Baruah, Kabupaten Tanah Datar.

Kalimat itu pula yang diucapkan sang ayah, Suyendri, S.Pd.SD, seorang guru sekolah dasar yang mengabdikan hampir empat puluh tahun hidupnya mendidik anak-anak kampung. Dari seorang guru sederhana di pelosok, lahirlah mimpi besar yang akhirnya mengantarkan putra sulungnya meraih gelar doktor pada ujian terbuka Program Doktor Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang (UNP), 27 Juli 2026.

Gunung Bungsu bukanlah daerah yang banyak dikenal orang. Bahkan di Kecamatan Batipuh sendiri, masih banyak yang belum pernah mendengar namanya. Letaknya berada di kawasan perbukitan dengan akses yang dahulu jauh dari mudah.

Di sanalah Dony tumbuh sebagai anak pertama dari lima bersaudara. Sang ibu, Darnita, adalah ibu rumah tangga yang membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, sementara ayahnya menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan terbaik mengubah kehidupan.

Masa kecil Dony diwarnai kesederhanaan. Fasilitas pendidikan masih terbatas. Saat mengikuti Ujian EBTANAS, ia harus berjalan kaki lebih dari 10 kilometer menuju Ladang Laweh karena akses transportasi saat itu belum memadai. Perjalanan panjang itu bukan sekadar perjalanan menuju ruang ujian, tetapi juga menjadi simbol perjuangan seorang anak kampung mengejar masa depan.

Selepas pendidikan dasar, Dony melanjutkan sekolah di Kota Padang Panjang. Tahun 2008, ia diterima di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Padang. Kecintaannya pada dunia konseling membuat langkah akademiknya tidak pernah berhenti.

Ia menyelesaikan Magister Bimbingan dan Konseling pada 2013, Pendidikan Profesi Konselor pada 2021, hingga akhirnya menuntaskan Program Doktor Bimbingan dan Konseling UNP pada 2026 dalam usia 35 tahun.

Disertasinya berjudul “Pengembangan Model Acceptance Commitment Therapy untuk Meningkatkan Subjective Well-Being Guru Taman Kanak-kanak”, di bawah bimbingan Prof. Dr. Neviyarni S., M.S., Kons. dan Dr. Nurfarhanah, M.Pd., Kons. Penelitian tersebut menawarkan model layanan bimbingan dan konseling yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan psikologis guru TK dan PAUD di Indonesia.

Kini Dony mengabdikan diri sebagai dosen Universitas Terbuka pada Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD). Baginya, profesi dosen bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang pengabdian untuk membuka akses pendidikan bagi masyarakat di berbagai penjuru negeri.

Namun, gelar doktor bukanlah tujuan akhir baginya.

Di balik toga dan gelar akademik itu, tersimpan rasa bakti kepada kedua orang tuanya. Setiap pencapaian selalu mengingatkannya pada pesan sederhana sang ayah yang tak pernah berubah: pendidikan adalah investasi terbaik yang tidak akan pernah habis.

Keberhasilan ini juga menjadi sejarah bagi keluarganya. Dony merupakan doktor pertama dalam keluarganya, sekaligus menjadi salah satu putra Jorong Gunung Bungsu yang berhasil mencapai jenjang pendidikan tertinggi.

Baginya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa keterbatasan geografis tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.

Dalam ujian terbuka doktoralnya, Dony menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh guru dan dosen yang telah membimbingnya sejak sekolah dasar hingga pendidikan doktor. Ia meyakini bahwa tidak ada keberhasilan yang diraih seorang diri.

“Setiap pencapaian berdiri di atas doa, ilmu, dukungan, dan ketulusan begitu banyak orang,” ujarnya.

Kepada para pelajar dan generasi muda, khususnya yang berasal dari daerah, ia menitipkan pesan yang sederhana namun penuh makna.

“Jangan pernah merasa kecil hanya karena berasal dari kampung kecil. Tempat lahir bukanlah batas mimpi kita. Teruslah belajar, teruslah berusaha, dan jangan pernah berhenti bermimpi. Pendidikan mampu mengubah masa depan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, masyarakat, dan daerah tempat kita berasal.”

Ia juga berpesan agar siapa pun yang telah berhasil tidak melupakan kampung halamannya.

“Ke mana pun kita melangkah, jangan sampai kehilangan akar kehidupan kita.”

Harapan Dony kini sederhana. Ia ingin semakin banyak putra-putri Jorong Gunung Bungsu berani melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, bahkan mencapai jenjang magister dan doktor. Menurutnya, kemajuan sebuah daerah bukan hanya ditentukan oleh kekayaan alam, tetapi juga oleh kualitas manusianya.

Perjalanan hidup Dony menjadi bukti bahwa mimpi tidak mengenal batas wilayah. Dari sebuah kampung kecil yang tersembunyi di perbukitan Tanah Datar, lahir semangat yang kini menginspirasi banyak orang.

Karena pada akhirnya, mimpi besar tidak selalu lahir dari tempat yang besar.

Kadang, ia justru tumbuh dari rumah sederhana seorang guru SD di sebuah kampung yang nyaris tak dikenal. Dan dari sanalah lahir keyakinan bahwa selama ada kemauan untuk belajar, bekerja keras, dan tidak menyerah, tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi untuk diraih. (***/Nas)

Exit mobile version