TANAHDATAR, – Kepedulian perantau terhadap kampung halaman kembali diwujudkan dalam bentuk nyata. Perantau Jorong Guguak Gadang, Nagari Padang Magek, Kecamatan Rambatan yang tergabung dalam Komunitas (G3D) telah , menuntaskan pembangunan rumah layak huni bagi warga yang membutuhkan.
Peresmian rumah layak huni tersebut dihadiri Kepala Dinas Perkim-LH Tanah Datar Januar Pempri, ST, MT, unsur Forkopimca, BUMD, ulama, ninik mamak, bundo kanduang, tokoh masyarakat, serta masyarakat Jorong Guguak Gadang, Rabu (16/9/2026).
Ketua G3D, H. Eril Kusnofi, mengatakan pembangunan rumah layak huni tersebut merupakan bentuk kepedulian dan gotong royong perantau Guguak Gadang bersama masyarakat dan pemerintah daerah.
Menurutnya, pembangunan tersebut bukan sekadar membangun atap dan dinding rumah. Lebih dari itu, rumah menjadi tempat keluarga membangun masa depan, tempat anak-anak tumbuh, belajar, merasa aman, sekaligus menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Ini merupakan program prioritas perantau Guguak Gadang. Wujud nyata kepedulian dan gotong royong antara perantau, elemen masyarakat dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Dijelaskan, pembangunan rumah tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak. Ninik mamak berperan dalam menyediakan lahan, sementara perantau memberikan dukungan dana. Pemerintah daerah bersama pemerintahan nagari turut memberikan dukungan moril maupun materil.
Syafril Jamal menyampaikan apresiasi atas inisiatif perantau yang telah membantu masyarakat mendapatkan hunian yang lebih layak.
Ia menyebut, pembangunan rumah tersebut terasa sangat cepat. Sebab, beberapa bulan sebelumnya baru dilakukan peletakan batu pertama, sementara saat ini rumah telah selesai dan dapat ditempati.
“Baru kemarin rasanya peletakan batu pertama oleh bupati. Berkat kerja sama dan semangat perantau, hari ini rumah ini sudah bisa diresmikan,” katanya.
Menurutnya, bantuan tersebut memberikan manfaat besar bagi keluarga penerima sekaligus membantu meringankan beban ekonomi masyarakat.
“Kalau masih ada rumah yang tidak layak huni, insyaallah akan dibangun kembali oleh perantau,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkim-LH Tanah Datar Januar Pempri mengatakan pembangunan rumah layak huni yang dilakukan perantau merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat di kampung halaman.
Ia menyebut, hingga saat ini program rumah layak huni di Tanah Datar telah mencapai hampir 3.000 unit. Selain program pemerintah daerah, terdapat pula program Kementerian PKP seperti Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
“Untuk program pemerintah, ada BSPS dari kementerian. Namun, apa yang dilakukan perantau ini juga luar biasa karena anggarannya lebih dari Rp100 juta untuk satu unit,” katanya.
Januar menegaskan, rumah memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar bangunan fisik. Rumah merupakan tempat pertama bagi anak-anak mendapatkan pendidikan keluarga, pembentukan karakter dan akhlak.
Karena itu, menurutnya, persoalan rumah tidak layak huni juga berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi keluarga.
“Masih kita temukan rumah yang kondisinya sangat sederhana, bahkan hanya beberapa keluarga yang tinggal di dalamnya. Karena himpitan ekonomi, mereka terkadang belum mampu memikirkan rumah sebagai tempat hunian yang nyaman dan aman,” jelasnya.
Ia juga mendorong agar kolaborasi perantau dan masyarakat di ranah tidak berhenti pada pembangunan rumah. Ke depan, dukungan perantau diharapkan dapat diperluas ke sektor pemberdayaan ekonomi, termasuk membantu permodalan pelaku UMKM.
Pemerintah daerah, katanya, telah menyediakan sejumlah program pemberdayaan ekonomi. Namun, dalam pelaksanaannya masih ditemukan kendala persyaratan yang membuat sebagian masyarakat belum dapat mengakses permodalan.
“Ke depan, kolaborasi antara perantau dan ranah tidak hanya membangun rumah layak huni, tetapi juga bagaimana ekonomi masyarakat bisa diperkuat, termasuk UMKM dan akses permodalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, peran perantau memang sangat penting bagi pembangunan daerah. Banyak perantau asal Sumatera Barat yang berkiprah di berbagai daerah dan pusat pemerintahan, namun tetap memberikan perhatian terhadap kampung halaman.
“Di Minangkabau, tonggak ekonomi kalau tidak didukung perantau akan lemah. Banyak perantau Sumbar yang berkiprah di pusat dan dukungannya sangat besar untuk ranah,” katanya.
Pembangunan rumah layak huni tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kekuatan perantau dan ranah masih menjadi modal sosial penting dalam membantu masyarakat.
Peresmian rumah ditandai dengan penyerahan kunci kepada penerima manfaat dan pengguntingan pita oleh Bupati Tanah Datar yang diwakili Kepala Dinas Perkim-LH Januar Pempri. (***)
