TANAHDATAR,– Alek Panghulu Nagari Gurun 2026 berlangsung sukses dan meriah. Rangkaian kegiatan yang digelar sejak awal Juli itu tidak hanya menjadi prosesi adat, tetapi juga dinilai memiliki potensi besar sebagai paket wisata budaya unggulan di Luhak Nan Tuo.
Pakar pariwisata green tourism, Ridwan Tulus, menilai Alek Panghulu Nagari Gurun dapat menjadi model pengemasan atraksi budaya di Sumatera Barat.
Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan disusun dengan perencanaan yang matang sejak Juli 2025, melibatkan masyarakat secara luas, serta mengintegrasikan berbagai unsur budaya, olahraga tradisional, ekonomi kreatif hingga prosesi adat yang sakral.
“Ini bukan sekadar alek adat, tetapi sudah memenuhi unsur sebuah atraksi wisata budaya yang terencana. Jika didukung fasilitas yang memadai, Nagari Gurun sangat layak menjadi destinasi wisata budaya,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Pacu Jawi pada 8 Juli 2026 yang menjadi pembuka alek. Koordinator Pacu Jawi Salincam, Rio Antoni, SE Dt Rajo Malano, mengatakan antusiasme masyarakat jauh melampaui perkiraan panitia.
Sebanyak 150 ekor sapi ikut berlaga dan ribuan pecinta Pacu Jawi memadati arena.
“Antusiasme pengunjung membuktikan Nagari Gurun memiliki daya tarik wisata yang kuat. Ke depan kami berharap fasilitas pendukung terus dilengkapi agar semakin layak dijual sebagai destinasi wisata budaya,” katanya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Lomba Baju Kurung Basiba yang dibuka istri Wakil Bupati Tanah Datar. Selain menjadi upaya pelestarian budaya Minangkabau, kegiatan tersebut juga membuka peluang bagi pelaku UMKM sulaman dan bordir.
Sementara itu, Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Tanah Datar yang turut menjadi dewan juri Lomba Memasak Randang Baluik menilai produk UMKM lokal perlu diperkuat melalui strategi branding, kemasan yang menarik serta digitalisasi pemasaran.
Kemeriahan alek semakin terasa dengan digelarnya lomba sepak takraw, sepak rago, pertunjukan randai hingga hiburan KIM yang menjadi penutup rangkaian kegiatan.
Prosesi Sakral Malewakan Gala
Puncak Alek Panghulu berlangsung di Balerong Adat Karapatan Adat Nagari Gurun melalui prosesi sakral Malewakan Gala Panghulu dan Khatik.
Prosesi diawali dengan arak-arakan para panghulu dan khatik bersama sekitar 625 orang anak kemenakan yang diiringi talam serta talempong pacik.
Dalam alek tersebut dilewakan sejumlah gelar adat, yakni M. Zidan Dt Basa (Suku Patopang), Rio Antoni SE Dt Rajo Malano (Palancuang Tinggi), M. Syukur S.Psi Dt Gosang Rajo (Piliang Laweh), Amron Dt Malano Nan Putiah (Payo Bada), AKP Amril SH Dt Mangkuto Kayo Nan Kuniang (Patopang), M. Hafidz sebagai Khatik Malano Nan Putiah serta Richi sebagai Khatik Mangkuto Kayo Nan Kuniang.
Sebelum prosesi utama, juga dilakukan pelurusan Gala Soko Dt Bangso Kayo yang menurut sejarah telah dipinjam sejak 1933 pada masa pemerintahan Angku Lareh Gurun.
Pelurusan tersebut dilaksanakan berdasarkan ranji kaum, tambo adat, ranji alam, ranji tuo hingga bukti pandam pakuburan yang disaksikan anak kemenakan, kaum serta pengurus Karapatan Adat Nagari Gurun.
Ketua Karapatan Adat Nagari Gurun, Dr. H. Febby Dt Bangso Kayo, SH, SST.Par., M.Par., QRGP., CFA bersama unsur kaum menegaskan bahwa pelurusan gala dilakukan sesuai ketentuan adat sehingga “soko baliak ka nan punyo”.
Dihadiri Tokoh Adat Luhak Nan Tuo
Prosesi Malewakan Gala dihadiri sekitar 25 Ketua Karapatan Adat Nagari se-Luhak Nan Tuo serta perwakilan Sarumpun Karapatan Adat Nagari (SAKATO).
Ketua Bakor KAN Sumatera Barat, Basrizal Dt Panghulu Basa, dalam sambutannya mengingatkan pentingnya menjaga kemurnian gala soko agar tidak dipinjamkan kepada pihak lain.
Ia menyebut masih banyak persoalan gala soko di nagari-nagari bekas wilayah Angku Lareh pada masa kolonial akibat pemakaian gelar yang tidak sesuai haknya.
Selain itu, ia juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak membiarkan munculnya KAN tandingan, serta meminta Kantor Pertanahan berhati-hati dalam menerbitkan sertifikat tanah agar tetap mengacu pada rekomendasi KAN yang sah.
Hal senada disampaikan Sekretaris LKAAM Tanah Datar Dt Rajo Manso yang menegaskan bahwa kebenaran adat tetap berpijak pada ranji tasurek, ranji tuo, ranji alam serta bukti pandam pakuburan.
Panitia Apresiasi Dukungan Masyarakat
Ketua Panitia Alek Panghulu, Irwan Dt Paduko Boso, menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat Nagari Gurun yang telah menyukseskan alek hingga berjalan aman, tertib dan lancar.
Menurutnya, keberhasilan acara diraih meskipun panitia mengaku menghadapi berbagai bentuk intimidasi, termasuk penyebaran pesan melalui aplikasi WhatsApp yang mengajak masyarakat tidak menghadiri alek serta ancaman pemberian sanksi sosial.
“Kami mengapresiasi seluruh masyarakat yang tetap hadir menyukseskan alek. Berbagai pesan provokatif yang beredar telah kami dokumentasikan sebagai barang bukti dan akan diserahkan kepada pihak berwenang karena diduga mengandung ujaran kebencian dan berpotensi mengganggu keamanan serta ketertiban masyarakat,” ujar Irwan.
Dengan suksesnya penyelenggaraan Alek Panghulu Nagari Gurun 2026, masyarakat berharap agenda adat tersebut dapat menjadi kalender tetap pariwisata budaya Kabupaten Tanah Datar, sekaligus memperkuat pelestarian adat Minangkabau dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan UMKM. (Nas)

