TANAHDATAR,– Muhamad Syukur, S.Pd.I resmi menyandang gelar adat Dt. Godang Rajo setelah mengikuti prosesi malewakan gala penghulu di Balerong Kerapatan Adat Nagari (KAN) Gurun, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Minggu (12/7/2026).
Prosesi sakral tersebut ditandai dengan pemasangan saluak, penyematan keris, serta pengucapan sumpah dan ikrar sebagai datuk. Dengan demikian, Muhamad Syukur yang berasal dari Kaum Suku Piliang Laweh Jorong Ampalu, Nagari Gurun, resmi bergelar Muhamad Syukur, S.Pd.I Dt. Godang Rajo.
Muhamad Syukur bukan sosok baru di ruang publik. Ia mengawali karier sebagai wartawan sejak 1988, menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1989, serta telah lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) tingkat Muda dan Madya. Selain itu, ia juga pernah menjadi anggota DPRD Tanah Datar periode 2009–2014, menjabat sebagai Ketua Fraksi Hanura sekaligus Sekretaris Komisi II.
Dalam prosesi tersebut, selain Muhamad Syukur, turut dilewakan enam penghulu lainnya dan dua orang khatib. Mereka yakni Dr. Febby bergelar Dt. Bangso Kayo dari Suku Koto, Muhammad Zidane bergelar Dt. Basa dari Suku Patopang, Rio Antoni, SE bergelar Dt. Rajo Malano dari Palancuang Tinggi, Amron bergelar Dt. Malano Nan Putiah dari Payo Badar, Ambril bergelar Dt. Mangkuto Kayo Nan Kuniang dari Patopang, Arif Budiman, SE, A.Md bergelar Dt. Rajo Endah dari Patopang, serta dua khatib, yakni M. Hafiz bergelar Khatik Malano Nan Putiah dan Richie bergelar Khatik Mangkuto Kayo Nan Kuniang.
Rangkaian kegiatan adat telah berlangsung sejak 8 Juli 2026 dengan berbagai agenda kebudayaan, seperti Pacu Jawi, lomba kurung, lomba randang baluik, pertandingan sepak takraw, membantai kerbau, pertunjukan randai hingga malam hiburan KIM berhadiah sebagai penutup.
Ketua KAN Gurun, Dr. H. Febby Dt. Bangso Kayo, mengingatkan seluruh datuk dan khatib yang baru dilewakan agar memaknai gelar adat sebagai amanah, bukan simbol kehormatan semata.
“Ingatlah, gelar ini adalah titipan nenek moyang. Jangan jadikan ia alat untuk mencari kekuasaan atau keuntungan pribadi. Jadikanlah diri kalian sebagai panutan, penyelesai sengketa, dan penjaga marwah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah di tengah masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Muhamad Syukur Dt. Godang Rajo mengaku bersyukur atas amanah yang diberikan kaum kepadanya. Menurutnya, gelar tersebut merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan penuh kebijaksanaan.
“Ini adalah kehormatan terbesar bagi saya dan keluarga. Saya berjanji akan belajar banyak dari para senior dan selalu hadir untuk membimbing kaum saya dengan bijaksana,” ujarnya.
Prosesi malewakan gala tersebut menjadi momentum penting dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan adat di Nagari Gurun sekaligus memperkuat pelestarian nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) di tengah kehidupan masyarakat Minangkabau. (Nas)
