TANAHDATAR,- Menjaga kestabilan harga bahan pokok dipasaran pasca bencana, serta akan memasuki bulan suci Ramadhan dan lebaran Idul Fitri ditahun 2026 ini, Pemkab Tanah Datar akan menggelar operasi murah secara berkala.
Hal itu dikemukan Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly disaat mengikuti High Level Meeting (HLM) Triwulan 1 Tahun 2026 bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat, di aula Anggun Nan Tongga Kantor Perwakilan BI, Kamis (22/1/2026).
“Ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama yang terdampak ekonominya pasca bencana. Kita akan tetap bersinergi dan berkomitmen untuk menjalankan instruksi TPID Provinsi agar gejolak harga pangan pasca bencana dapat kita tekan. Sehingga masyarakat bisa beribadah di bulan Ramadan dengan tenang tanpa dibebani kenaikan harga yang ekstrem,” ujarnya.
Dikatakan wabup, malahan saat ini, guna menjaga stabilitas harga, pemerintah daerah telah menyalurkan bantuan cadangan beras sebanyak 5 ton. Sementara, khusus untuk 3 kecamatan yang terdampak bencana juga telah mendapatkan bantuan beras dari pemerintah pusat sebanyak 28 ton.
“Lamgkah strategis yang telah dilakukan ini, membuat harga bahan pokok di pasaran tetap stabil. Kita secara intensif juga akan memantau terus kondisi harga bahan pokok di pasaran. Ini kita lakukan untuk mencegah spekulasi harga terutama saat Ramadhan dan Idul Fitri nanti,” ucapnya
Disebutkan dia, meski sebagai daerah yang merupakan salah satu penghasil pangan terbesar di Sumbar, namun juga terdampak akibat bencana hidro meteorologi, terutama di kecamatan Batipuh, Batipuh Selatan dan kecamatan X Koto.
“Ketersedian pangan di Tanah Datar cukup terpengaruh karena bencana, dimana tiga daerah penghasil beras dan holtikultura akibat bencana lahan persawahan seluas 400 hektar, 50 hektar holtikultura dan ratusan ternak terdampak,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah mengatakan dampak kerusakan lahan pertanian, peternakan, perikanan serta infrastruktur irigasi dan jalan akibat bencana alam yang terjadi baru-baru ini, tentu akan memengaruhi pasokan pangan menjelang momentum peningkatan konsumsi, yaitu bulan Ramadhan dan Idul Fitri.
“Dari data yang dicermati tiga tahun belakangan, kebutuhan bahan pangan yang memicu inflasi menjelang datangnya bulan Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri, selalu komoditi yang berulang yaitu beras, cabe merah, cabe rawit, bawang merah, minyak goreng, gula pasir, daging ayam dan telur ayam ras,” katanya.
Terkait hal ini, katanya bisa dilakukan antisipasi bersama yang efektif, dan kepada masyarakat juga diminta untuk tidak panik. Karena pemerintah akan menyiapkan langkah strategis dalam mengantisipasi persoalan ini.
“Pemerintah Kab/Kota segera memetakan ketersediaan dan kebutuhan pangan strategis serta menyusun rencana aksi nyata. Guna mencegah lonjakan harga dan praktik penimbunan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, ” jelasnya.
Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram memprediksi pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada tahun 2026 mengalami perlambatan.
Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,3 hingga 4 persen atau berada jauh di bawah target tahun 2025 yang dipatok pada angka 4,4 hingga 5,4 persen.
“Hal ini diakibatkan dampak kerusakan sektor pertanian akibat bencana hidro meteorologi yang terjadi,” katanya.
Dia juga berharap pemerintah daerah bisa terus menjaga stabilitas harga bahan pokok dalam rangka mengatasi dampak pasca bencana.
Di kesempatan tersebut Mohamad Abdul Majid Ikram secara khusus juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah Tanah Datar, yang sudah 5 kali berturut-turut (2021-2025) berhasil meraih penghargaan TPID Award terbaik wilayah Sumatera.
“Selamat dan terima kasih kepada pemerintah kabupaten Tanah Datar karena kembali menerima TPID Award atas keberhasilan menstabilkan inflasi di daerah,” pungkasnya. (Nas)

