Indeks

Kisah Resianti Mengubah Nasib di Rantau, Dari Modal Nekat Hingga Penyedia Mobil Rental Rombongan Pejabat

Foto. Resianti

TANAH DATAR – Bagi Resiyanti (52) perempuan asal Lubuk Jantan, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, merantau bukan sekadar mencari pekerjaan.

Rantau menjadi jalan panjang untuk mengubah nasib keluarga sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Kini di usianya 52 tahun, Resianti telah dikenal sebagai salah seorang pengusaha rental mobil di Batam. Usahanya berkembang hingga memiliki puluhan unit kendaraan dan jaringan relasi di berbagai daerah.

Bahkan, rental yang dirintisnya dipercaya melayani rombongan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia serta para menteri saat kunjungan kerja ke wilayah Kepulauan Riau dan Riau dan beberapa daerah lainnya.

Namun, jauh sebelum berada di titik itu, Resianti pernah menjalani hari-hari yang penuh keterbatasan.

Dia menceritakan, kisahnya bermula setelah ia menamatkan pendidikan di SMEA Negeri 1 Batusangkar, saat itu sang ayah meninggal dunia.

Sebagai anak sulung dari enam bersaudara, Resianti merasa memiliki tanggung jawab besar terhadap keluarga.

Pada tahun 1994, ia memilih pergi merantau ke Dumai. Di sana ia tinggal bersama “etek” (adik dari ibunya) dan bekerja di sebuah pom bensin, sebagai pencuci piring, hingga bersih-bersih.

Namun, penghasilan yang diterimanya tidak cukup untuk membantu keluarga di kampung halaman. Ia kemudian memberanikan diri meninggalkan Dumai dan melanjutkan perantauan ke Pekanbaru.

“Di Pekanbaru saya numpang di tempat kawan. Setiap pagi saya buka koran-koran, lihat lowongan pekerjaan,” kenang Resianti saat dihubungi Sabtu, (5/9/2026).

Di tempat kos temannya itu, ia melihat lowongan pekerjaan di PT Kalbe Farma Health Food Pekanbaru meski dia menyadari dirinya hanya lulusan SMEA jurusan pemasaran di Batusangkar.

Sementara, persyaratan pekerjaan tersebut mencantumkan pendidikan minimal S1 atau latar belakang gizi.

Namun, ia tidak membiarkan persyaratan itu mematahkan langkahnya, Ia nekat mencoba dan akhirnya Resianti diterima.

Setelah diterima, bukan berarti perjuangannya selesai. Justru dari sinilah tantangan baru dimulai.

Ia harus mempelajari pengetahuan produk di bidang farmasi melalui ratusan lembar materi. Ia menjalani pelatihan, belajar, menghafal, dan berusaha mengejar ketertinggalan pendidikan dengan kemampuan yang dimilikinya.

Resianti berhasil menyelesaikan pelatihan dan menunjukkan prestasi kerja yang baik. Ia bahkan dipercaya menjadi salah satu yang terbaik di wilayah Sumatera.

Kepercayaan demi kepercayaan kemudian datang. Pada tahun 1996, ia dipindahkan ke Tanjungpinang untuk menangani wilayah tersebut.

Setelah berhasil menjalankan tugas, tanggung jawabnya kembali diperluas. Ia dipercaya memegang wilayah Kepulauan Riau, mulai dari Tanjung Balai Karimun, Tanjung Batu, Batam, Tanjungpinang, Tanjung Uban hingga Selatpanjang.

Di balik karir yang mulai menanjak, ada satu tujuan yang sejak awal terus dipegangnya, yaitu keluarga di kampung.

Resianti menyebut, sebagai anak tertua dari keluarga yang telah kehilangan ayah, tanggung jawabnya kepada saudara-saudara nya sangat besar.

Meski sudah menerima gaji, sebagian besar penghasilannya dikirimkan ke kampung untuk membiayai sekolah lima adiknya.

Resiyanti bahkan mengaku pernah menjalani masa-masa sulit hingga untuk sekadar makan pun harus berhemat.

“Kadang beli mie, mie itu dimakan pakai nasi, sebagai pencuci piring, bersih-bersih, hingga tidur dirumah liar,” kata dia.

Kehidupan sulit itu tidak membuatnya menyerah. Justru dari kondisi tersebut tumbuh tekad yang lebih besar. Ia ingin suatu hari nanti orang tuanya dihargai.

“Motivasi saya bertahan adalah menaikkan harga diri orang tua. Saya ingin orang tua saya dihargai,” ujarnya.

Lama di rantau, Resi dipertemukan jodoh dan menikah. Setelah menikah, Resiyanti menetap di Batam pada 2003. Suaminya saat itu juga bekerja di bidang farmasi tapi berbeda perusahaan.

Kehidupan di Batam kemudian mempertemukannya dengan peluang baru.

Ia melihat banyak dokter dari luar daerah datang ke Batam untuk berbagai kegiatan. Para dokter tersebut membutuhkan kendaraan dan pengemudi selama berada di kota tersebut.

Resiyanti melihat kebutuhan itu bukan sekadar sebagai aktivitas biasa, melainkan peluang usaha.

Dengan modal nekad dan yakin, Resianti mencoba menyewa kendaraan milik orang lain, untuk sopirnya sendiri adalah suaminya.

Perlahan, usahanya tersebut berkembang. Dari satu kendaraan, bertambah menjadi beberapa kendaraan. Mereka mulai dipercaya menangani kegiatan-kegiatan besar.

Dari perjalanan itulah mereka mendapatkan modal untuk membeli kendaraan sendiri.

Karena usahanya sudah mulai membuahkan hasil, Resianti kemudian mulai mengajak adik-adiknya ke rantau untuk menjalankan usahanya.

“Satu per satu adik saya tarik, saya ajak ke Batam. Tanpa sadar, sudah banyak karyawan,” katanya.

Dari awalnya hanya sewa kendaraan untuk antar perusahaan untuk profesi dokter, momen berharga kembali datang ketika Indonesia masih dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktu itu.

Saat itu, Resiyanti mendapat informasi mengenai kedatangan rombongan Presiden ke Batam untuk menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ).

Rental yang dirintisnya dipercaya membawa rombongan tersebut. Dari situlah ia mendapat dorongan untuk membangun usaha secara lebih profesional.

Karena sebelumnya usaha yang dijalani belum memiliki legalitas perusahaan, Ia kemudian dianjurkan mendirikan perusahaan.

“Maka lahirlah PT Ananda Aditya Jaya ini,” ujarnya.

Sejak saat itu, usaha rental yang dibangunnya semakin berkembang. Kerja sama dengan berbagai instansi pemerintahan dan perusahaan terus berdatangan.

Hingga kini, Resianti mengaku telah lebih dari dua dekade menjalankan kerja sama dengan berbagai pihak. Rentalnya dipercaya melayani perjalanan rombongan Presiden, Wakil Presiden, menteri hingga berbagai kementerian dan perusahaan bank.

Jaringan usahanya pun tidak lagi terbatas di Batam. Ia memiliki relasi rental di berbagai daerah di Indonesia.

Bahkan ketika ada kegiatan besar di daerah lain, jaringan yang telah dibangunnya selama puluhan tahun kebutuhan kendaraan dapat dipenuhi.

Salah satunya ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menghadiri peresmian Pacu Jalur di Teluk Kuantan tahun lalu. Resianti kembali dipercaya menyediakan kendaraan untuk kebutuhan rombongan di wilayah tersebut.

Dibalik kesuksesan yang digapai Resianti, perjalanan hidupnya ternyata tidak berhenti pada keberhasilan membangun usaha, melainkan tekad yang kuat untuk sukses

Sekitar tujuh tahun lalu, ia kembali menghadapi ujian berat. Suaminya meninggal dunia secara mendadak karena sakit.

Saat itu, ia harus melanjutkan kehidupan sekaligus membesarkan anak-anak. Kendaraan-kendaraan rental yang telah dibangun bersama sang suami tercinta masih yang belum lunas, kendaraan tersebut juga tidak ada asuransi.

Resiyanti tidak punya pilihan selain kembali berdiri dan meneruskan semuanya.

Ia tetap bekerja, tetap menjalankan usaha, tetap menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya.

Kini, anak pertamanya telah menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi. Anak keduanya sedang kuliah di Malang, sementara anak ketiganya masih duduk di bangku SMA.

Di tengah segala ujian itu, Resiyanti percaya bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk maju.

Ia sendiri tidak pernah merasa pendidikan yang terbatas menjadi alasan untuk menyerah.

“Walaupun saya tidak sekolah tinggi, walaupun orang tidak punya, saya berhak untuk maju. Allah tidak memilih-milih orang yang boleh maju atau sukses,” katanya.

Baginya, keberhasilan bukan hanya soal modal besar. Ia menyebut dirinya hanya bermodal keberanian, kemauan dan konsistensi.

“Modal saya hanya nekat. Tapi tidak pernah bekerja yang negatif. Kerja yang positif,” ujarnya.

Di balik perjalanan panjang itu, Resiyanti memiliki kebiasaan yang terus dijaganya hingga kini. Ia terbiasa bangun sekitar pukul 03.00 dini hari.

Salat tahajud, membaca Al-Qur’an setidaknya satu lembar, salat Subuh, kemudian berolahraga dan bekerja menjadi rutinitas yang telah dijalaninya selama puluhan tahun.

Bagi Resianti, keberhasilan tidak datang hanya karena keberuntungan. Ada doa, disiplin, keberanian mengambil peluang dan kemauan untuk terus belajar.

Dari seorang anak yatim yang pernah mengandalkan makan mie instan, pencuci piring, bersih-bersih, hingga tidur dirumah liar, ia kini mampu membangun usaha yang ikut membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Bahkan, sejumlah mantan sopirnya kini sudah banyak menjadi pengusaha rental mobil.

Tiga orang adiknya yang dulu ia bantu menyelesaikan pendidikan, kini juga menjalankan usaha rental mobil di Batam.

Resianti berpesan kepada generasi muda di kampung halaman maupun di rantau untuk jangan ragu untuk mencoba hal yang baru.

“Jangan minder, tetap semangat, optimis, yakin dan percaya diri. Setiap manusia punya hak untuk maju,” pesannya.

Sebab, bagi Resianti, keterbatasan bukanlah garis akhir. Ia pernah berangkat ke rantau hanya dengan ijazah SMEA dan tekad untuk membantu keluarga, oernah hidup menumpang, makan seadanya, bahkan tinggal di rumah liar.(*)

Exit mobile version