DHARMASRAYA — Siapa sangka lumpur yang selama ini identik dengan sesuatu yang kotor dan tak bernilai justru bisa menjadi sumber inspirasi sebuah karya seni bernilai tinggi.
Pesan itulah yang dibawa Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Dharmasraya dalam Lomba Defile HKG PKK ke-54 dan Wirakarya (Jambore) Kader PKK ke-XXII Tingkat Provinsi Sumatera Barat Tahun 2026 di Kota Bukittinggi.
Melalui tema “Goresan Lumpur Ranah Cati Nan Tigo”, kader TP-PKK Dharmasraya mencoba mengangkat potensi lokal menjadi sebuah karya yang tidak hanya memiliki nilai seni dan budaya, tetapi juga membawa pesan tentang pemberdayaan dan penguatan ekonomi keluarga.
Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian HKG PKK ke-54 dan Wirakarya (Jambore) Kader PKK ke-XXII Tingkat Provinsi Sumatera Barat yang berlangsung 1-3 September 2026.
Dipimpin Ny. Hj. Rafnelly Rafki Marlon, kader TP-PKK Dharmasraya mengikuti sejumlah cabang perlombaan, mulai dari paduan suara, solo song, cerdas cermat, bermain peran, Galeri Pelangi hingga defile.
Namun, bagi Dharmasraya, seluruh perlombaan bukan sekadar persoalan menang dan kalah.
Setiap penampilan menjadi panggung untuk membawa potensi, kreativitas, budaya, sekaligus semangat pemberdayaan masyarakat Dharmasraya ke tingkat provinsi.
“Goresan Lumpur Ranah Cati Nan Tigo” menjadi representasi bagaimana sesuatu yang sederhana dapat diubah menjadi karya bernilai ketika disentuh kreativitas dan keterampilan.
Lumpur yang selama ini identik dengan sesuatu yang kotor justru dijadikan inspirasi untuk menghadirkan mahakarya sandang bernilai tinggi.
Di balik konsep tersebut tersimpan pesan yang lebih besar: potensi lokal tidak harus selalu berupa sesuatu yang sudah bernilai secara ekonomi. Dengan kreativitas, inovasi, dan pengelolaan yang tepat, sesuatu yang dianggap biasa bahkan tak bernilai pun dapat menjadi sumber daya yang menghasilkan.
Karena itu, tema tersebut tidak berhenti sebagai konsep defile. Ia menjadi simbol perjalanan pemberdayaan masyarakat—bagaimana tradisi dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan inovasi untuk membuka peluang baru bagi keluarga.
Semangat itu sejalan dengan 10 Program Pokok PKK yang terus didorong hingga tingkat kecamatan, nagari, kelompok Dasawisma, dan keluarga.
Rantai pemberdayaan tersebut menjadi kekuatan penting dalam mendorong keluarga agar semakin sehat, mandiri, produktif, dan sejahtera. (*)

