TANAHDATAR,- SMA Negeri 3 Batusangkar tidak hanya fokus mengejar prestasi akademik. Pembentukan karakter, kemandirian dan kecakapan sosial siswa juga menjadi perhatian serius melalui berbagai program pembinaan di lingkungan asrama.
Bagi puluhan siswa yang tinggal di asrama, lingkungan tersebut menjadi rumah kedua sekaligus ruang belajar di luar kelas. Setiap hari mereka dibiasakan dengan disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kepemimpinan dan penguatan nilai-nilai keagamaan.
Kepala SMAN 3 Batusangkar, Muharnis, S.Si., M.Pd., mengatakan pembinaan karakter merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
“Kami tidak ingin anak-anak hanya cerdas di kelas. Di asrama, kami bentuk karakter mereka. Karena sehebat apa pun ilmunya, jika karakternya lemah maka akan sulit menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Salah satu kegiatan yang rutin dilaksanakan adalah muhadarah mingguan. Setiap malam, siswa mengikuti kegiatan di masjid asrama dengan berbagai agenda, mulai dari ceramah singkat, kultum, puisi Islami hingga diskusi keagamaan.
“Kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga melatih keberanian, kemampuan berbicara di depan umum dan kepercayaan diri siswa,” ucapnya.
Pembinaan spiritual juga diperkuat melalui shalat fardhu berjamaah, tahfiz dan tadarus Al-Qur’an. Rutinitas tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah membangun kedisiplinan beribadah sekaligus menumbuhkan kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an.
Selain pembinaan keagamaan, siswa juga dibiasakan menjaga kebersihan lingkungan asrama. Mereka memiliki jadwal piket untuk membersihkan kamar, lingkungan asrama hingga masjid.
Kebiasaan sederhana tersebut menjadi sarana menanamkan rasa tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan dan semangat gotong royong.
Di bidang kepemimpinan, siswa juga diberi ruang untuk terlibat dalam pengelolaan berbagai kegiatan asrama. Mereka dipercaya menjadi koordinator keamanan, kebersihan maupun kegiatan keagamaan.
Melalui keterlibatan tersebut, siswa belajar mengatur waktu, bekerja sama, mengambil tanggung jawab dan menyelesaikan persoalan bersama.
Pembinaan semakin diperkuat melalui tausiyah dan bimbingan mental yang menghadirkan pementor, ustadz dan ustazah.
Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan keagamaan, tetapi juga menyentuh persoalan adab, akhlak, pencegahan kenakalan remaja serta motivasi menghadapi masa depan.
Muharnis menegaskan, keberhasilan pembinaan karakter tidak dapat dilakukan sekolah sendirian. Sinergi antara sekolah, orang tua dan pengelola asrama menjadi bagian penting dalam membentuk kepribadian siswa.
“Kami berharap lulusan SMAN 3 Batusangkar tidak hanya diterima di PTN favorit, tetapi juga menjadi anak yang saleh dan salehah, beradab serta bermanfaat bagi bangsa,” katanya.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara konsisten tersebut, SMAN 3 Batusangkar berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, mandiri, berakhlak dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Nas)

