Bukittinggi, – Busana baju milik khas Nagari Padang Magek, Kecamatan Rambatan, Tanah Datar tampil memukau pada festival peragaan 1000 perempuan berbusana minang dalam rangkaian perayaan 100 tahun Jam Gadang (1926–2026), di Kota Bukittinggi, Sabtu (6/6/2026).
Busana adat istimewa ini dikenakan oleh ratusan perempuan dari nagari tersebut dalam parade kolosal didepan pelataran Pasar Ateh menuju plaza Jam Gadang.
Pakaian adat ini tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga dinobatkan sebagai salah satu busana adat termahal dan peserta terbanyak oleh panitia penyelenggara.
Wali Nagari Padang Magek Syafril Jamal mengatakan ditampilkan busana adat baju milik pada festival itu sebagai bentuk komitmen masyarakatnya dalam melestarikan dan sekaligus memperkenalkan identitas khas nagari kepada khalayak luas.
“Keikutsertaan pada festival ini, selain ada undangan khusus dari Pemko Bukittinggi, juga mendapatkan dukungan dari perantau melalui KKTD Jakarta. Maka sebanyak 120 peserta diberangkatkan untuk mengikuti perayaan bersejarah tersebut,” ujarnya.
Dikatakan Syafril Jamal, keikutsertaan pada festival ini, juga merupakan momentum dalam memperkenalkan baju milik khas Padang Magek yang telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementrian Hukum dan HAM pada tahun 2023 lalu.
“Status HKI yang telah dimiliki itu, baju milik khas Padang Magek semakin dikenal sebagai salahsatu kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat Nagari Padang Magek,” ungkapnya.
Pihaknya memiliki komitmen akan selalu menampilkan peragaan baju adat tersebut disetiap pergelaran yang dilaksanakan.
“Pada setiap event atau pergelaran, kita selalu diberikan tawaran oleh panitia penyelenggara untuk menampilkan peragaan baju milik khas nagari tersebut, termasuk pada festival Pagaruyung bulan Agustus mendatang,” pungkasnya.
Disebutkan dia, pada festival ini, bisa tampilnya peragaan baju milik khas nagari ini, hasil dari gotong royong dan swadaya masyarakat, serta dukungan dari perantau dan pemerintah daerah.
“Kebutuhan biaya selama mengikuti event ini, mulai dari transportasi, kosumsi, dan akomodasi dibiayai secara mandiri dan bantuan dari perantau. Tanpa menggunakan dana nagari,” sebutnya.
Disaat itu juga, Syafril Jamal menyatakan ucapan terima kasih kepada pemerintah daerah dan seluruh perantau, serta Pemko Bukittinggi yang telah memberikan kesempatan kepada Nagari Padang Magek, untuk menjadi bagian dari perayaan bersejarah se abad Jam Gadang.
“Kehadiran kami disini bukan hanya untuk memeriahkan, tetapi juga sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya minangkabau yang harus terus jaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya. (Nas)

