TANAHDATAR,— Jejak sejarah Minangkabau kembali mempertemukan ranah dan rantau. Sejumlah akademisi yang tergabung dalam Minang Diaspora Network Global dari Malaysia mengunjungi Kabupaten Tanah Datar untuk menelusuri jejak leluhur sekaligus menggali kembali hubungan sejarah Minangkabau dengan negeri jiran.
Kunjungan tersebut diterima Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly dalam jamuan makan malam di Indojolito Batusangkar, Selasa (8/9/2026) malam.
Sebelum dijamu pemerintah daerah, rombongan telah menyambangi sejumlah situs yang menjadi bagian penting dari sejarah dan kebudayaan Minangkabau. Di antaranya Masjid Islah dan Kuburan Panjang di Nagari Pariangan, Batu Batikam, Batu Basurek, Istano Basa Pagaruyung, serta UIN Mahmud Yunus Batusangkar.
Presiden Minang Diaspora Network Global, Prof. Fasli Jalal, mengatakan kunjungan tersebut tidak sekadar perjalanan wisata, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkuat kembali hubungan generasi keturunan Minangkabau di Malaysia dengan tanah asal leluhurnya.
Ia menyampaikan apresiasi atas sambutan dan fasilitasi Pemerintah Kabupaten Tanah Datar selama rombongan berada di daerah tersebut.
“Terima kasih kepada Bupati dan Wabup bersama jajaran yang telah mendampingi dan memfasilitasi rombongan kami. Insya Allah besok masih akan kita lanjutkan ke Puncak Pato, Rumah Sulaman dan beberapa objek lainnya,” ujarnya.
Menurut Fasli, diaspora Minangkabau di Malaysia merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan dalam berbagai bidang. Diperkirakan terdapat sekitar 600 ribu generasi keturunan Minangkabau yang kini menjadi warga Malaysia.
Rombongan yang datang ke Tanah Datar, katanya, sebagian besar merupakan kalangan akademisi keturunan Minangkabau. Mereka memiliki perhatian terhadap sejarah, budaya dan akar identitas leluhur.
“Potensi ini yang coba kita maksimalkan. Semoga kegiatan ini memberikan dampak ke depan dan semakin banyak keturunan Minang yang kembali berkunjung ke kampung halaman,” katanya.
Fasli menegaskan, hubungan ranah dan rantau tersebut juga dapat dikembangkan lebih jauh melalui kerja sama konkret, khususnya di bidang pendidikan, selain pariwisata dan kebudayaan.
Bukan Sekadar Bernostalgia
Ketua Delegasi Minang Diaspora Network Global, Prof. Madya Dr. Norailis AB Wahab, juga menyampaikan apresiasi atas penyambutan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar.
Menurutnya, perjalanan ke Tanah Datar memberikan kesempatan bagi para peserta untuk melihat langsung berbagai situs yang selama ini memiliki keterkaitan dengan sejarah Minangkabau. Namun, ada satu warisan sejarah yang ingin dibawa kembali ke Tanah Datar.
Norailis mengungkapkan dirinya memiliki sebuah film yang diproduksi sekitar tahun 1920-an yang berkaitan dengan Raja Melewar. Dalam sejarah yang mereka telusuri, Raja Melewar disebut sebagai pangeran utusan Kerajaan Pagaruyung yang dikaitkan dengan upaya menyatukan wilayah-wilayah Minangkabau di Tanah Melayu.
“Insya Allah, film yang menjadi bukti sejarah keterikatan Minangkabau dengan Malaysia kita restorasi sehingga layak ditonton kembali dan akan kita tayangkan di sini nanti,” ujarnya.
Rencana tersebut membuka peluang baru untuk mempertemukan sejarah, budaya dan teknologi dalam satu ruang. Bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi bahan edukasi bagi generasi muda mengenai hubungan panjang antara Minangkabau dan dunia Melayu.
Tanah Datar Buka Pintu Kerja Sama
Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly menyambut baik kunjungan tersebut. Baginya, kedatangan Minang Diaspora Network Global menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antara masyarakat Tanah Datar dengan generasi Minangkabau yang kini hidup di Malaysia.
“Alhamdulillah, Kabupaten Tanah Datar menjadi salah satu wilayah kunjungan dari Minang Diaspora. Kami ucapkan terima kasih dan rasa bahagia menyambut dunsanak, saudara kami. Walaupun telah berbeda negara, namun rasa Minang masih tinggi. Kami harap rasa itu terus dipertahankan,” ujarnya.
Ahmad Fadly mengatakan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar terbuka terhadap peluang kerja sama yang dapat dibangun dengan Minang Diaspora Network Global.
Kerja sama tersebut tidak hanya diarahkan pada sektor pariwisata dan kebudayaan, tetapi juga pendidikan serta berbagai bidang lain yang memungkinkan untuk dikembangkan bersama.
“Kami juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama berada di Tanah Datar terdapat kekurangan dalam pelayanan. Insya Allah ke depan kita siap menjalin kerja sama lagi,” pungkasnya.
Kunjungan Minang Diaspora Network Global mengusung sejumlah tema, yakni “Mengenal Rumah Asal Peradaban Minangkabau”, “Menelusuri Jejak Leluhur”, “Mengalami Kehidupan Orang Minangkabau”, dan “Minangkabau Mendunia”.
Tema tersebut seakan menegaskan bahwa batas negara tidak serta-merta menghapus akar sejarah.
Bagi diaspora Minangkabau, Tanah Datar bukan sekadar destinasi, tetapi bagian dari perjalanan panjang untuk menemukan kembali rumah asal peradaban dan identitas leluhur.
Turut hadir Sekretaris Daerah Abdurrahman Hadi, Asisten Administrasi Umum Sri Mulyani, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Alfi Hidayati, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mulkhairi serta undangan lainnya.
