Oleh: Two Efly
Bencana sering datang tanpa memberi waktu bagi manusia untuk bersiap. Namun dari setiap bencana selalu ada dua pilihan: membiarkannya menjadi sekadar tragedi untuk dikenang, atau menjadikannya pelajaran guna membangun perlindungan yang lebih kuat di masa depan.
Di lereng Gunung Marapi, pilihan kedua itu kini mulai terlihat.
Pada awal 2026, Kabupaten Tanah Datar mencatat dua momentum penting dalam upaya pemulihan pascabencana. Pertama, dimulainya pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak bencana yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Kepala BP BUMN Dony Oskaria. Kedua, dimulainya pembangunan Sabo Dam bersama Menteri PUPR Dodi Hanggodo serta dukungan anggota DPR RI Andre Rosiade dan Zigo Rolanda.
Dua langkah ini bukan sekadar proyek pembangunan. Ia adalah bagian dari upaya panjang untuk membangun ketahanan wilayah yang selama ini hidup berdampingan dengan risiko bencana alam.
Bagi Sumatera Barat, pembangunan Sabo Dam memiliki arti penting. Infrastruktur ini merupakan yang pertama dibangun di provinsi tersebut sebagai sistem pengendali material vulkanik yang berpotensi memicu banjir lahar dingin dari Gunung Marapi.
Sementara pembangunan hunian tetap memberi kepastian masa depan bagi warga yang kehilangan rumah akibat bencana hidrometeorologi.
Di balik dua momentum tersebut, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh publik. Upaya menghadirkan dukungan pemerintah pusat ke daerah sering kali membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kerja lobi yang tidak sederhana.
Bagi pemerintah daerah dengan keterbatasan fiskal, menjemput program pusat sering menjadi satu-satunya jalan untuk mempercepat pemulihan dan pembangunan.
Kini, upaya itu mulai menampakkan hasil. Miliaran rupiah dana APBN mengalir ke Tanah Datar untuk membangun kembali berbagai infrastruktur yang rusak akibat bencana.
Namun makna pembangunan ini tidak hanya terletak pada angka anggaran. Yang lebih penting adalah bagaimana negara hadir untuk memastikan masyarakat yang hidup di wilayah rawan bencana tidak terus-menerus berada dalam lingkaran kerentanan.
Benteng Awal Menghadapi Lahar
Secara teknis, Sabo Dam bukan sekadar bendungan penahan air. Ia adalah sistem rekayasa yang dirancang khusus untuk mengendalikan aliran sedimen dan material vulkanik dari hulu sungai.
Struktur beton bertulang dengan fondasi yang kuat memungkinkan bangunan ini menahan tekanan batu, pasir, dan lumpur yang terbawa aliran lahar dingin.
Fungsi utamanya adalah menahan dan menyaring material vulkanik sebelum mencapai wilayah permukiman. Selain itu, Sabo Dam juga memperlambat laju aliran lahar sehingga daya rusaknya berkurang sebelum mencapai kawasan hilir.
Keberadaan Sabo Dam juga membantu mengurangi pendangkalan sungai akibat penumpukan sedimen—salah satu penyebab utama meluapnya aliran sungai ke permukiman warga.
Dengan fungsi tersebut, Sabo Dam sesungguhnya menjadi benteng awal untuk meredam potensi bencana.
Di negara seperti Jepang, infrastruktur semacam ini telah lama menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana di kawasan gunung berapi. Indonesia yang memiliki ratusan gunung api aktif tentu membutuhkan pendekatan serupa.
Pembangunan Sabo Dam di lereng Marapi bukan sekadar proyek konstruksi. Ia adalah investasi keselamatan bagi masyarakat yang hidup di wilayah rawan bencana.
Pemulihan yang tentulah tidak Mudah. Upaya mitigasi ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia merupakan respons atas rangkaian bencana yang berturut-turut menghantam Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Rentetan peristiwa itu bermula pada Desember 2023 ketika Gunung Marapi mengalami erupsi yang menewaskan puluhan pendaki.
Berselang beberapa bulan tepat 5 April 2024 banjir lahar dingin yang merusak berbagai infrastruktur, termasuk jembatan dan jalan penghubung di sejumlah nagari di Tanah Datar dan Kabupaten Agam.
Namun bencana yang lebih besar datang pada Mei 2024. Aliran lahar dingin membawa material batu besar, pasir, dan lumpur yang menghantam rumah warga serta menimbun lahan pertanian.
Nagari Sungai Jambu di Tanah Datar menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Material galodo mengalir dari hulu hingga ke kawasan Rambatan dan nyaris mencapai pusat Kota Batusangkar.
Tidak hanya itu, jalur strategis Lembah Anai yang menghubungkan Padang dengan wilayah timur Sumatera Barat juga sempat lumpuh.
Padahal jalur ini merupakan nadi ekonomi provinsi. Ia menjadi penghubung utama distribusi barang dan mobilitas masyarakat antara ibu kota provinsi dan berbagai daerah penyangga.
Ketika jalur ini terputus berbulan-bulan, dampaknya langsung terasa pada aktivitas ekonomi.
Mobilitas manusia terganggu. Distribusi logistik terhambat. Aktivitas perdagangan melambat.
Belum sepenuhnya pulih dari bencana tersebut, Sumatera Barat kembali dilanda bencana hidrometeorologi pada akhir 2025. Curah hujan ekstrem memicu banjir dan longsor di berbagai daerah.
Sebanyak 16 kabupaten dan kota terdampak. Ratusan rumah rusak, puluhan jembatan roboh, dan lahan pertanian mengalami kerusakan luas.
Lebih menyedihkan lagi, ratusan warga kehilangan nyawa akibat tertimbun longsor dan terseret arus banjir.
Rentetan bencana ini menyadarkan banyak pihak bahwa mitigasi tidak bisa lagi ditunda.
Membangun Ketahanan Wilayah
Pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Relokasi warga ke kawasan yang lebih aman adalah langkah yang tidak mudah. Penyediaan lahan sering kali menjadi tantangan terbesar dalam proses ini.
Namun Tanah Datar berhasil menjadi daerah pertama di Sumatera Barat yang masuk ke tahap pembangunan hunian tetap bagi korban bencana hidrometeorologi.
Langkah ini menandai pergeseran penting dari fase tanggap darurat menuju fase rekonstruksi kehidupan masyarakat.
Bagi warga yang kehilangan rumah, hunian tetap bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol dimulainya kembali kehidupan yang sempat terhenti oleh bencana.
Pada akhirnya, pembangunan Sabo Dam dan hunian tetap di Tanah Datar adalah bagian dari ikhtiar yang lebih besar: membangun ketahanan wilayah.
Bencana mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya. Namun dampaknya dapat diminimalkan jika manusia bersedia belajar dari pengalaman.
Di lereng Marapi, pelajaran itu kini mulai diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Sabo Dam yang sedang dibangun hari ini bukan hanya konstruksi beton di aliran sungai. Ia adalah pengingat bahwa setiap tragedi seharusnya melahirkan langkah baru untuk melindungi kehidupan.
Dan di tengah alam yang tidak selalu bisa diprediksi, ikhtiar semacam inilah yang memberi harapan bahwa masa depan bisa menjadi lebih aman daripada masa lalu. (*)
