Indeks
News  

Mustafa Akmal Serahkan Memoar kepada M. Shadiq Pasadigoe di Senayan

JAKARTA, — Perjalanan panjang Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali, S.H., M.H., sebagai wartawan, aparatur sipil negara, dosen, aktivis hingga advokat, kini terangkum dalam sebuah buku memoar berjudul “Memoar Mustafa: Wartawan, PNS, Dosen, Aktivis, dan Advokat.”

Buku tersebut diserahkan langsung Mustafa Akmal kepada Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Dr. Ir. M. Shadiq Pasadigoe, S.H., M.M., di ruang kerja Shadiq, lantai 21 Ruang Fraksi Partai NasDem, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Pertemuan itu berlangsung di sela kesibukan Shadiq Pasadigoe menjelang agenda rapat paripurna DPR RI dan rapat Panitia Kerja (Panja) RUU Perdata Internasional.

Mustafa Akmal mengaku bersyukur dapat menyerahkan langsung buku yang memuat perjalanan pengabdiannya tersebut kepada Shadiq Pasadigoe. Terlebih, mantan Bupati Tanah Datar itu juga berkenan memberikan testimoni untuk memoarnya.

“Alhamdulillah, buku ini bisa saya serahkan langsung kepada beliau di ruang kerjanya. Ini merupakan momen yang sangat berharga bagi saya karena bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan beliau di tengah kesibukannya,” ujar Mustafa.

Ia menyampaikan terima kasih atas apresiasi dan testimoni yang diberikan Shadiq Pasadigoe. Menurutnya, testimoni tersebut bukan sekadar pelengkap sebuah buku, tetapi juga menjadi penghargaan sekaligus motivasi baginya untuk terus berkarya melalui tulisan.

“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada beliau yang telah memberikan testimoni untuk buku memoar ini. Bagi saya, testimoni tersebut merupakan penghargaan dan motivasi tersendiri,” katanya.

Shadiq: Pengalaman Hidup Layak Jadi Pembelajaran

Sementara itu, M. Shadiq Pasadigoe mengapresiasi langkah Mustafa Akmal yang mendokumentasikan perjalanan pengabdiannya melalui sebuah memoar.

Shadiq mengaku telah mengenal Mustafa sejak dirinya masih menjabat sebagai Bupati Tanah Datar. Saat itu, Mustafa pernah dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Radio Luhak Nan Tuo.

“Saya mengenal beliau sebagai aparatur yang tekun, komunikatif, dan memiliki kepedulian terhadap Tanah Datar. Pada saat saya menjabat sebagai Bupati Tanah Datar, beliau pernah dipercaya sebagai Kepala Radio Luhak Nan Tuo,” ujar Shadiq.

Menurutnya, kiprah Mustafa tidak hanya terlihat dalam kapasitasnya sebagai aparatur. Sebagai wartawan, Mustafa juga aktif menulis berbagai kegiatan pembangunan dan kehidupan masyarakat.
Yang menarik, semangat tersebut tidak berhenti ketika Mustafa memasuki masa purna tugas.

“Dan setelah purna tugas, beliau masih tetap aktif menulis. Bahkan, beliau mampu menulis perjalanan pengabdiannya dalam bentuk memoar,” katanya.

Shadiq menilai, dokumentasi perjalanan hidup melalui buku memiliki nilai penting. Pengalaman seseorang, terutama dalam menjalani berbagai profesi dan pengabdian, dapat menjadi catatan sekaligus sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya.

“Ini tentu patut diapresiasi karena pengalaman dan perjalanan hidup beliau dapat menjadi catatan serta pembelajaran bagi generasi berikutnya,” ujar Shadiq.

Buku “Memoar Mustafa: Wartawan, PNS, Dosen, Aktivis, dan Advokat” merekam perjalanan Mustafa Akmal Datuk Sidi Ali dalam berbagai fase kehidupan. Mulai dari dunia jurnalistik, pengabdian sebagai PNS, kiprah sebagai dosen dan aktivis, hingga menjalani profesi advokat.

Penyerahan buku di Jakarta tersebut tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan sebuah karya, tetapi juga menjadi momentum silaturahmi, bertukar pengalaman, sekaligus merefleksikan perjalanan panjang pengabdian seorang putra daerah yang memilih tetap berkarya melalui tulisan. (Nas)

Exit mobile version